Oleh: niamw | April 30, 2010

Pendidikan Anti Korupsi (PAK) Salah Satu Model Pendidikan Karakter

Pendidikan Anti Korupsi (PAK)

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Anti Korupsi (PAK)

Sudah diketahui dengan jelas bahwa korupsi yang terjadi di negara Indonesia ini sudah sedemikian rumit dan mengurat akar, sehingga sangat sulit untuk memulai mengurai dari mana kegiatan advokasi bisa dilakukan. Kesulitan ini bisa disebabkan kompleksnya permasalahan korupsi, kompleksnya pelaku korupsi, dan kompleksnya aturan dan penegak hukum yang seharusnya berdiri di depan mengawal sekaligus mengamankan kekayaan negara dari tangan-tangan koruptor yang tidak bertanggungjawab.

Terungkapnya kasus korupsi di negeri ini adalah bukti belum mapannya dunia pendidikan. Artinya orang-orang yang bergelar profesor, doktor, dan gelar akademik lainnya pun tidak terlepas dari jeratan korupsi. Korupsi yang dilakukan dengan cara berjamah di Kejaksaan Agung atau di mana pun juga merupakan bukti tidak berhasilnya pembinaan mental bangsa Indonesia. Pendidikan selama belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencegahan korupsi yang dilakukan alumni pendidikan sendiri. Kenyataan demikian menjadikan dunia pendidikan kita semakin jauh dari realitas kehidupan umat manusia.

Pemberantasan korupsi tidak cukup teratasi hanya dengan mengandalkan proses penegakkan hukum. Membumihanguskan korupsi juga perlu dilakukan dengan tindakan preventif, antara lain dengan menanamkan nilai religius, moral bebas korupsi atau pembelajaran anti korupsi melalui berbagai lembaga pendidikan.


Lembaga pendidikan tidak hanya sekolah, akademi, institut, atau universitas. Juga termasuk lembaga pendidikan dan pelatihan yang dikelola pemerintah dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas aparatur pemerintahan. Lembaga pendidikan memiliki posisi sangat strategis dalam menanamkan mental antikorupsi. Dengan menanamkan mental anti korupsi sejak dini di lembaga pendidikan baik pada level dasar, menengah maupun tinggi, generasi penerus bangsa di negeri ini diharapkan memiliki pandangan yang tegas terhadap berbagai bentuk praktik korupsi. Pembelajaran antikorupsi yang diberikan di berbagai level lembaga pendidikan, diharapkan dapat menyelamatkan generasi muda agar tidak menjadi penerus atau mewarisi tindakan korup yang dilakukan pendahulunya.

Lembaga pendidikan mestinya tidak hanya melahirkan kaum intelektual, ilmuwan yang pandai, cerdas dan terampil atau aparatur yang dibekali berbagai kemahiran dan keterampilan yang mendukung aktivitasnya. Tetapi juga harus mampu melahirkan sumberdaya manusia yang memiliki rasa, memegang nilai religius dan moral yang salah satunya adalah antikorupsi. Lembaga pendidikan bertujuan mendidik, bukan sekadar mengajar. Mendidik dalam hal ini adalah menanamkan nilai luhur dan budi pekerti kepada peserta didik. Boleh jadi nilai anti korupsi termasuk di dalamya. Sedangkan tugas mengajar lebih difokuskan pada proses belajar-mengajar, dalam arti pengembangan kemampuan intelektual peserta didik. Pembelajaran anti korupsi juga harus menjadi agenda pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan yang dikelola pemerintah untuk meningkatkan kualitas aparatur pemerintah.

Menurut catatan ICW (Banjarmasin Post, 25 Januari 2007), pada 2006 tren korupsi berdasarkan lembaga, eksekutif menempati peringkat pertama sebagai lembaga terkorup (69 persen) disusul BUMN/BUMD urutan kedua (49 persen) dan legislatif DPR/DPRD pada peringkat ketiga (17 persen). Oleh karena itu, selayaknya penanaman nilai moral antikorupsi atau pembelajaran antikorupsi menjadi fokus perhatian dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan di lembaga pendidikan dan pelatihan milik pemerintah.

Untuk melakukan kerja-kerja anti korupsi yang terencana dan tersistematis yang akan mendukung terjadinya gerakan sosial anti korupsi yaitu dapat dimulai dari diadakannya program pembelajaran anti korupsi. Pendidikan dirasa mampu mencegah atau setidaknya memberi gambaran awal bahwa korupsi merugikan banyak kalangan dan menyengsarakan diri sendiri. Institusi pendidikan dipandang sebagai institusi yang mengajarkan kepada peserta didik arti ilmu pengetahuan bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Program pendidikan anti korupsi bertujuan untuk memberikan pemahaman yang sama dan terpadu serta terbimbing dalam rangka menekan kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan korupsi. Kemudian harapannya berdampak pada adanya respon atau tanggapan balik dari rakyat untuk bisa menyuarakan kearifannya mengenai penyimpangan korupsi (Tim MCM, 2005: 42 ).

Di samping itu juga bertujuan untuk membentuk kesadaran publik terhadap setiap kegiatan yang mengarah kepada adanya tindakan korupsi oleh para penguasa atau pengambil kebijakan yang tidak mempedulika rakyat (Tim MCW, 2005: 43). Menurut Azyumardi Azra (dalam Suara Karya Online edisi 30 Agustus 2006) perlunya penanaman nilai anti korupsi di lembaga pendidikan ialah agar siswa lulus dan kelak sudah terjun di masyarakat dapat membedakan mana yang termasuk korupsi dan mana yang bukan sehingga mampu menghindarinya.

Memerangi korupsi melalui pendayagunaan jalur pendidikan formal sebagai suatu bagian menangani korupsi merupakan salah satu strategi yang diharapkan cukup signifikan, mengingat masyarakat terdidik inilah yang perannya dimasyarakat cukup dominan. Mereka tidak cukup hanya dibekali pengetahuan dan kemampuan bagaimana melakukan sesuatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat, tetapi yang lebih utama dalah bagaimana menggunakan ilmu dan cara-cara tersebut dengan benar, tanpa harus melakukan korupsi, bahkan termasuk kiat-kiat utnuk melawan korupsi, dorongan atau motivasi untuk aktif berperan dalam upaya memerangi atau memberantas korupsi (Tim LP3 UMY, 2004: 212).Isi atau Materi Pendidikan Anti Korupsi (PAK)

Materi Pendidikan Anti Korupsi (PAK) untuk tingkat SMA dan SMP terdiri dari Pengenalan Korupsi, Dampak Korupsi, Upaya Perlawanan Terhadap Korupsi, Warung Kejujuran dan pemilihan pelajar Panutan/Unggul. Materi untuk kelas 4, 5 dan 6 SD disisipkan kedalam beberapa mata ajaran diantaranya pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA/IPS dan Kesenian dan Budaya. Materi Anti Korupsi untuk siswa SD terdiri dari 7 nilai : Kejujuran, Keberanian, Tanggungjawab, Kesederhanaan, Kepedulian, Daya Juang dan Keadilan.

Menurut laporan KPK tahun 2007 dalam pengembangan modul pendidikan, telah dibuat 3 modul untuk siswa SMP dan telah siap untuk dipublikasikan pada tahun 2008. Selain itu juga, untuk pendidikan pengembangan karakter anti korupsi bagi SD, telah dibuat modul pendidikan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6. Khusus untuk pendidikan pengembangan siswa Taman Kanak-kanak (TK) telah dibuat buku dongeng anti korupsi yang berisi pesan moral yang memadukan cerita sederhana dengan tokoh dan karakter hewan-hewan lucu. Implementasi kegiatan pendidikan dengan pendekatan dongeng akan dilaksanakan pada tahun 2008.

Dalam modul yang disusun oleh Pusat Studi Urban Unika Soegijapranata Semarang bekerjasama dengan Insitute of Social Studies, The Netherlands, disebutkan bahwa modul yang terbagi menjadi tiga modul adalah pengantar bagi pembelajaran anti korupsi untuk para peserta didik SMP. Pada modul tersebut dimulai dengan proses kognisi yakni pengetahuan tentang apa korupsi, dan mengapa korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moralitas dan peraturan/hukum. Modul lainnya adalah mengantarkan para peserta didik untuk belajar sambil mengalami, yakni mengalami untuk berpikir kritis, mengalami untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihannya sendiri.

Menurut KPK dalam situsnya www.kpk.go.id, pendidikan anti korupsi bagi pelajar SMP adalah langkah awal yang ditempuh KPK untuk mulai melakukan penanaman nilai ke arah yang lebih baik sedari usia muda. Pelajar adalah mereka yang dalam waktu relatif singkat akan segera bersentuhan dengan beberapa aspek pelayanan publik. Sehingga apabila mereka dapat memahami lingkup, modus, dampak dari korupsi baik dalam lingkup paling dekat dan dalam skala yang paling kecil hingga lingkup makro dan mencakup skala yang besar, minimal pelajar tersebut nantinya mulai berani berkata ’TIDAK’ untuk korupsi

Program pendidikan anti korupsi tidak hanya menyentuh pelajar dan mahasiswa saja, akan tetapi dikembangkan pula untuk Sektor Swasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan para Penyelenggara Negara (PN). Salah satunya adalah program pemberdayaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peran dan fungsi DPRD. DPRD memiliki dua peran yang amat penting, yaitu sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah dan sebagai wakil rakyat. Kedua peran DPRD tersebut diwujudkan dalam dalam tiga fungsi, yaitu legislasi, anggaran dan pengawasan. Dengan peran dan fungsi tersebut DPRD menempati posisi yang sangat strategis dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat (Annual Report KPK tahun 2007: 67-68).

Sedangkan siapa saja yang menjadi sasaran pendidikan anti korupsi, TIM MWC (2005: 44) membagi sasaran program pendidikan anti korupsi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok inti yang terdiri dari perseorangan maupun kelompok yang peduli terhadap aktivitas perjuangan anti korupsi yang mempunyai basis massa homogen dalam suatu komunitas tertentu, seperti kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok PKL, rakyat miskin kota, mahasiswa, komunitas pengangguran, komunitas buruh dan pelajar yang selama ini mereka selalu termarginalisasi oleh sistem yang dikembangkan oleh pengambil kebijakan. Kedua, kelompok antara, yang terdiri dari perseorangan maupun kelompok yang peduli terhadap aktivitas perjuangan anti korupsi yang merupakan jangkar dari kelompok inti, seperti LSM, mahasiswa, kelompok-kelompok menengah lainnya yang konsern terhadap nasib masyarakat akibat tindakan dari beberapa orang atau kelompok yang mempunyai ”hobby” korupsi uang negara yang nota bene-nya adalah uang untuk pembangunan masyarakat.

Dalam pelaksanaan pendidikan anti korupsi dapat digunakan berbagai macam media dan metode. Diantaranya dengan menggunakan media Ular Tangga Anti Korupsi dan dengan permainan Gobak Sodor yang telah dikembangkan di SMP Keluarga Kudus. Bisa juga melalui program warung kejujuran.

Pendekatan yang dilakukan dalam pendidikan anti korupsi mengambil pengalaman-pengalaman berupa best practices masyarakat transparansi internasional dan pengalaman kita dengan pendidikan P4. Hal yang harus dihindari adalah adanya indoktrinasi, pembelajaran yang menekankan pada aspek hafalan semata-mata. Pendidikan anti korupsi haruslah bermakna belajar dengan mengalami atau experiential lerning jadi tidak sekedar mengkondisikan para peserta didik hanya untuk tahu, namun juga diberi kesempatan untuk membuat keputusan dan pilihan untuk dirinya sendiri.

Peserta didik kita seringkali hanya diberi pengetahuan normatif sesuatu hal namun tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri mengapa siswa harus mengambil keputusan tertentu dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah siswa ambil. Sebagai contoh belajar mengalami adalah salah satunya diilustrasikan dengan adanya laboratorium kejujuran/integritas, yakni tempat para peserta didik disediakan kantin dan toko tempat mereka membayar sendiri tanpa ada kasir yang menerima pembayaran uang.

Laboratorium ini ada di sebuah SMP swasta di Kudus. Para siswa bertangung jawab pada tindakannya sendiri dengan tetap membayar dengan jujur pada makanan, buku atau alat tulis lainnya yang mereka beli meskipun tanpa adanya pengawas atau penjaga toko. Siswa bebas memilih dan membeli apa yang mau dibeli. Siswa tinggal menuliskan barang apa yang telah dibeli dan langsung membayar, jika ada uang kembalian siswa boleh langsung mengambil uang kembalian di kotak uang yang telah disediakan.

      1. Model Pendidikan Anti Korupsi

Keberhasilan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi akan dipengaruhi pula oleh cara penyampaiannya dan pendekatan pembelajaran yang dipergunakan. Untuk tidak menambah beban siswa yang sudah cukup berat, perlu dipikirkan secara matang bagaimana model dan pendekatan yang akan dipilih. Ada beberapa model untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi yang dapat dipilih yang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Menurut Elwina dan Riyanto (2008) model-model tersebut antara lain:

1) Model sebagai Mata Pelajaran Tersendiri

Pendidikan anti korupsi disampaikan sebagai mata pelajaran tersendiri seperti bidang studi yang lain. Dalam hal ini guru bidang studi pembelajaran anti korupsi harus membuat Garis Besar Pedoman Pengajaran (GBPP), Satuan pelajaran (SP), Rencana Pengajaran (RP), metodologi pengajaran, dan evaluasi pengajaran. Selain itu, pembelajaran anti korupsi sebagai mata pelajaran harus masuk dalam jadwal yang terstruktur.

Keunggulan pendidikan anti korupsi sebagai mata pelajaran adalah meteri lebih terfokus dan terencana dengan matang. Dengan demikian, pelajaran lebih terstruktur dan terukur sebagai informasi. Ada jam yang sudah ditentukan sebagai kesempatan untuk memberikan informasi secara pasti. Guru dapat membuat perencanaan dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya.

Kelemahan dari model adalah tuntutan yang ketat sehingga pembelajaran anti korupsi lebih banyak menyentuh aspek kognitif belaka, tidak sampai pada kesadaran dan internalisasi nilai hidupnya. Selain proses internalisasinya kurang menonjol, aspek afektifnya pun kurang mendapat kesempatan untuk dikembangkan. Hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan model ini adalah bahwa penanaman nilai seolah-olah hanya ditumpukan pada satu orang guru (Zuriah, 2007: 90). Hal seperti ini dapat mengakibatkan bidang studi pembelajaran anti korupsi hanya sebatas pengetahuan yang dangkal dan ini berarti pembelajaran anti korupsi menjadi gagal.

2) Model Terintegrasi dalam Semua Mata Pelajaran

Penanaman nilai anti korupsi dalam pendidikan anti korupsi juga dapat disampaikan secara terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Guru dapat memilih nilai-nilai yang akan ditanamkan melalui materi bahasan mata pelajarannya. Nilai-nilai anti korupsi dapat ditanamkan melalui beberapa pokok atau sub pokok bahasan yang berkaitan dengan nilai-nilai hidup. Dengan model seperti ini, semua guru adalah pengajar pembelajaran anti korupsi tanpa kecuali.

Keunggulan model ini adalah semua guru ikut bertanggungjawab akan penanaman nilai-nilai anti korupsi kepada siswa. Pemahaman nilai hidup anti korupsi dalam diri anak tidak melulu bersifat informative-kognitif, melainkan bersifat terapan pada tiap mata pelajaran (Suparno, 2002: 43).

Kelemahan dari model ini adalah pemahaman dan persepsi tentang nilai-nilai anti korupsi yang akan ditanamkan harus jelas dan sama bagi semua guru. Tidak boleh ada perbedaan persepsi dan pemahaman tentang nilai karena bila hal ini terjadi maka justru akan membingungkan anak.

3) Model di Luar Pembelajaran

Penanaman nilai anti korupsi dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di luar pembelajaran misalnya dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan insidental. Penanaman nilai dengan model ini lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan untuk dibahas dan dikupas nilai-nilai hidupnya. Model ini dapat dilaksanakan oleh guru sekolah yang bersangkutan yang mendapat tugas tersebut atau dipercayakan pada lembaga di luar sekolah untuk melaksanakannya, misalnya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Keunggulan metode ini adalah anak sungguh mendapat nilai melalui pengalaman-pengalaman konkret. Pengalaman akan lebih tertanam dalam jika dibandingkan sekadar informasi apalagi informasi yang monolog. Anak-anak lebih terlibat dalam menggali nilai-nilai hidup dan pembelajaran lebih menggembirakan. Kelemahan metode ini adalah tidak ada struktur yang tetap dalam kerangkan pendidikan dan pengajaran di sekolah, membutuhkan waktu lebih banyak.

Model ini juga menuntut kreativitas dan pemahaman akan kebutuhan anak secara mendalam, tidak hanya sekadar acara bersama belaka, dibutuhkan pendamping yang kompak dan mempunyai persepsi yang sama. Dan kegiatan semacam ini tidak bisa hanya diadakan setahun sekali atau dua kali tetapi berulang kali.

4) Model pembudayaan, pembiasaan nilai dalam seluruh aktivitas dan suasana sekolah

Penanaman nilai-nilai anti korupsi dapat juga ditanamkan melalui pembudayaan dalam seluruh aktivitas dan suasana sekolah. Pembudayaan akan menimbulkan suatu pembiasaan. Untuk menumbuhkan budaya anti korupsi sekolah perlu merencanakan suatu kebudayaan dan kegiatan pembiasaan. Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula (Djamarah, 2002: 72). Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang beralaku di sekolah dan masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan pembiasaan yang baik di sekolah pengaruhnya juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sampai dewasa nanti.

Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui pembiasaan pada anak-anak Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Karena itu adalah penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik dan jangan seklai-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, menyontek dalam ulangan dan sebagainya.

5) Model Gabungan

Model gabungan berarti menggunakan gabungan antara model terintegrasi dan di luar pembelajaran secara bersama-sama. Penanaman nilai lewat pengakaran formal terintegrasi bersama dengan kegiatan di luar pembelajaran. Model ini dapat dilaksanakan baik dalam kerja sama dengan tim oleh guru maupun dalam kerja sama dengan pihak luar sekolah.

Keunggulan model ini adalah semua guru terlibat dan bahkan dapat dan harus belajar dari pihak luar untuk mengembangkan diri dan siswa. Anak mengenal nilai-nilai hidup untuk membentuk mereka baik secara informativ dan diperkuat dengan pengalaman melalui kegiatan-kegiatan yang terencana dengan baik.

Kelemahan model ini adalah menuntut keterlibatan banyak pihak, banyak waktu untuk koordinasi, banyak biaya dan kesepahaman yang mendalam, terlihat apabila melibatkan pihak luar sekolah. Selain itu, tidak semua guru mempunyai kompetensi dan keterampilan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi.

Metode Atau Cara Penyampaian Nilai-Nilai Anti Korupsi

Untuk metode atau cara penyampaian nilai-nilai anti korupsi Elwina & Riyanto (2008) menyarankan bahwa dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi sebaiknya menggunakan cara yang demokratis, merupakan suatu upaya pencarian bersama, aktivitas bersama, menggunakan metode keteladanan, pengalaman langsung atau simulasi, live in serta melakukan klarifikasi nilai.

  1. Metode demokratis

Metode demokratis menekankan pencarian secara bebas dan penghayatan nilai-nilai hidup dengan langsung melibatkan anak untuk menemukan nilai-nilai tersebut dalam pendampingan dan pengarahan guru. Anak diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan, pendapat, dan penilaian terhadap nilai-nilai yang ditemukan. Guru tidak bersikap sebagai pemberi informasi satu-satunya dalam menemukan nilai-nilai anti korupsi yang dihayatinya. Guru berperan sebagai penjaga garis atau koridor dalam penemuan nilai hidup tersebut.

Metode ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai diantaranya keterbukaan, kejujuran, penghargaan pada pendapat orang lain, sportivitas, kerendahan hati dan toleransi. Melalui metode ini anak diajak untuk mulai berani mengungkapkan gagasan, pendapat, maupun perasaannya. Tahap demi tahap anak diarahkan untuk menata jalan pikiran, cara berbicara, dan sikap hidupnya. Dengan cara ini anak diajak untuk belajar menentukan nilai hidup secara benar dan jujur.

  1. Metode Pencarian bersama

Metode ini menekankan pada pencarian bersama yang melibatkan siswa dan guru. Pencarian bersama lebih berorientasi pada diskusi atas soal-soal yang aktual dalam masyarakat, di mana proses ini diharapkan menumbuhkan sikap berpikir logis, analitis, sistematis, argumentative untuk dapat mengambil nilai-nilai hidup dari masalah yang diolah bersama. Melalui metode ini siswa diajak aktif mencari dan menemukan tema yang sedang berkembang dan menjadi perhatian bersama. Dengan menemukan permasalahan, mengkritisi dan mengolahnya, anak diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang ada dan menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dengan demikian anak akan aktif sejal dalam proses pencarian tema atau permasalahan yang muncul dalam pendampingan guru.

Selain menemukan nilai-nilai dari permasalahan yang diolah, anak juga diajak untuk secara kritis analitis mengolah sebab akibat dari permasalahan yang muncul tersebut. Anak diajak untuk tidak cepat menyimpulkan apalagi mengambil sikap, namun dengan cermat dan hati-hati melihat duduk permasalahan untuk sampai pada pengambilan sikap. Anak diajak untuk melihat realita tidak hanya hitam-putih, tetapi lebih luas lagi yaitu adanya kemungkinan realita abu-abu.

  1. Metode siswa aktif atau aktivitas bersama

Metode ini menekankan pada proses yang melibatkan anak sejak awal pembelajaran. Guru memberikan pokok bahasan dan anak dalam kelompk mencari dan mengembangkan proses selanjutnya. Anak membuat pengamatan, pembahasan analisis sampai proses penyimpulan atas kegiatan mereka. Metode ini mendorong anak untuk mempunyai kreativitas, ketelitian, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, kerja sama, kejujuran, dan daya juang.

  1. Metode keteladanan

Dalam dunia pendidikan, apa yang terjadi dan tertangkap oleh anak bisa jadi tanpa disaring akan langsung dilakukan. Proses pembentukan kepribadian pada anak akan dimulai dengan melihat orang yang akan diteladani. Guru dapat menjadi tokoh idola dan panutan bagi anak. Dengan keteladanan guru dapat membimbing anak untuk membentuk sikap yang kokoh. Keselarasan antara kata dan tindakan dari guru akan amat berarti bagi seorang anak, demikian pula apabila terjadi ketidakcocokan antara kata dan tindakan guru maka perilaku anak juga akan tidak benar. Dalam hal ini guru dituntut memiliki ketulusan, keteguhan, kekonsistenan hidup.

Proses penanaman nilai-nilai anti korupsi kepada anak melalui proses keteladanan pada mulanya dilakukan secara mencontoh, namun anak perlu diberi pemahaman mengapa hal itu dilakukan (Sanjaya, 2006: 179). Misalnya, guru perlu menjelaskan mengapa kita tidak boleh korupsi; menjelaskan bahaya dari tindakan korupsi atau mengapa kita harus jujur, tidak mencontek pada waktu ulangan. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar didasari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.

  1. Metode Live In

Metode Live in dimaksudkan agar anak mempunyai pengalaman hidup bersama orang lain langsung dengan situasi yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya. Dengan pengalaman langsung anak dapat mengenal lingkungan hidup yang berbeda dalam cara berpikir, tantangan, permasalahan, termasuk tentang nilai-nilai hidupnya. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara periodik.

Dengan cara ini anak diajak untuk mensyukuri hidupnya yang jauh lebih baik dari orang lain, tumbuh sikap toleran dan sosial yang lebih tinggi pada kehidupan bersama. Anak perlu mendapat bimbingan untuk merefleksikan pengalaman tersebut, baik secara rasional intelektual maupun dari segi batin rohaninya. Hal ini perlu dijaga jangan sampai anak menanggapi pengalaman ini berlebihan, tetapi haruslah secara wajar dan seimbang.

  1. Metode penjernihan nilai atau klarifikasi nilai.

Latar belakang sosial kehidupan, pendidikan, dan pengalaman dapat membawa perbedaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai hidup. Adanya berbagai pandangan hidup dalam masyarakat membuat bingung seorang anak. Apabila kebingungan ini tidak dapat terungkap dengan baik dan tidak mendapat pendampingan yang baik, ia akan mengalami pembelokan nilai hidup. Oleh karena itu, dibutuhkan proses penjernihan nilai atau klarifikasi nilai dengan dialog afektif dalam bentuk sharing atau diskusi yang mendalam dan intensif.

Teknik mengklarifikasi nilai atau penjernihan nilai dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa (Sanjaya, 2006: 282). Kelemahan yang sering terjadi dalam pembelajaran nilai atau sikap, (termasuk pembelajaran anti korupsi) adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa. Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.

Pembelajaran anti korupsi pada prinsipnya adalah menggunakan metode yang melibatkan seluruh aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta kecerdasan sosial. Maka pemahaman konsep, pengenalan konteks, reaksi dan aksi menjadi bagian penting dari seluruh metode pendidikan nilai-nilai anti korupsi. Metode atau cara penyampaian nilai-nilai anti korupsi ini juga penting karena dengan cara penyampaian yang tidak tepat, tujuan yang akan dicapai juga sulit diperoleh. Supaya tujuan yang akan dicapai dapat diperoleh, dalam penyampaian nilai-nilai anti korupsi, harus digunakan cara-cara yang menarik dan disesuaikan dengan kemampuan anak didik.

Model dan metode pelaksanaan Pendidikan Anti Korupsi di SMP Keluarga Kudus

Dari beberapa model dan metode yang dipaparkan di atas, ternyata masing-masing model dan metode memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Untuk menentukan metode yang akan digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai anti korupsi harus disesuaikan dengan kondisi siswa, guru, sarana dan prasarana yang ada.

Adapun penerapannya di SMP Keluarga Kudus dapat disimpulkan bahwa model dan metode penyampaian pembelajaran anti korupsi yang diterapkan di SMP Keluarga Kudus tidak hanya dilaksanakan dengan menggunakan satu model dan metode penyampaian. Di sana telah digunakan berbagai kombinasi yang merupakan gabungan dari berbagai metode dan model. Sehingga masing-masing model dan metode yang digunakan akan saling melengkapi satu dengan yang lainnya, saling menutupi kelemahan dari metode satu dengan menggunakan metode lainnya.

Adapun model yang biasa diterapkan dalam pembelajaran anti korupsi di SMP Keluarga Kudus yaitu dengan menggunakan model sebagai mata pelajaran tersendiri dan model pembiasaan. Pendidikan anti korupsi (PAK) sebagai mata pelajaran tersendiri seperti mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini wali kelas atau guru yang memberikan materi anti korupsi harus membuat silabus yang biasanya telah disusun diawal tahun pelajaran yang dimusyawarahkan bersama. Selain itu pembelajaran anti korupsi yang dilaksanakan di SMP Keluarga Kudus juga telah masuk dalam jadwal yang terstruktur diadakan selama 1 kali jam pelajaran setiap minggunya yaitu setiap hari Sabtu. Pada prinsipnya pembelajaran anti korupsi yang telah dilaksanakan di SMP Keluarga Kudus selama ini lebih menekankan praktek anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, tujuannya agar siswa terlatih untuk tidak korupsi.

Untuk mendukung praktek anti korupsi tersebut penanaman nilai-nilai anti korupsi dapat juga ditanamkan melalui pembudayaan dalam seluruh aktivitas dan suasana sekolah. Pembudayaan akan menimbulkan suatu pembiasaan. Untuk menumbuhkan budaya anti korupsi sekolah perlu merencanakan suatu kebudayaan dan kegiatan pembiasaan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Untuk menumbuhkan budaya pembiasaan anti korupsi maka di SMP Keluarga Kudus telah dibuat sebuah warung atau kantin kejujuran dan telepon kejujuran.

Sedangkan metodenya menggunakan metode demokratis dan metode penjernihan nilai. Dalam praktiknya anak diajak untuk membahas kasus korupsi yang sedang marak di Indonesia. Tahap demi tahap anak diajak untuk melihat dan menilai apa yang terjadi dalam masyarakat dan akhirnya pada apa yang telah mereka lakukan. Anak diajak untuk melihat duduk permasalahan dan berani mengambil sikap dan pilihan dalam hidupnya. Tema kegiatan diskusi tersebut biasanya diambil dari kasus korupsi yang saat itu sedang marak-maraknya. Dalam diskusi itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan meluruskan jika dalam diskusi tersebut telah keluar dari tema diskusi. Anak juga diajak untuk secara kritis melihat nilai-nilai hidup yang ada dalam masyarakatnya dan bersikap terhadap situasi tersebut.

Penjernihan nilai (klarifikasi nilai) dalam kehidupan amat penting. Apabila bias tentang nilai dan sikap hidup ini dibiarkan maka akan menyesatkan. Apabila yang salah ini biarkan dan seolah dibenarkan maka akan terjadi kekacauan pandangan di dalam hidup bersama. Teknik klarifikasi nilai (value clarification technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada waktu berlangsung pembelajaran anti korupsi di SMP Keluarga Kudus, anak diajak untuk membahas kasus korupsi yang sedang marak di Indonesia. Tahap demi tahap anak diajak untuk melihat dan menilai apa yang terjadi dalam masyarakat dan akhirnya pada apa yang telah mereka lakukan. Anak diajak untuk melihat duduk permasalahan dan berani mengambil sikap dan pilihan dalam hidupnya. Anak juga diajak untuk secara kritis melihat nilai-nilai hidup yang ada dalam masyarakatnya dan bersikap terhadap situasi tersebut. Penjernihan nilai dalam kehidupan amat penting. Apabila bias tentang nilai dan sikap hidup ini dibiarkan maka akan menyesatkan. Apabila yang salah ini biarkan dan seolah dibenarkan maka akan terjadi kekacauan pandangan di dalam hidup bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohim. 2007. Analisis Wacana Pendidikan Anti Korupsi (http://stishidayatullah.ac.id. Diunduh 14 Mei 2008).

Azhar, Muhammad dkk. 2004. Pendidikan Anti Korupsi. Yogyakarta: LP3 UMY

Gunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Harmanto. 2008. Mencari Model Pendidikan Antikorupsi Bagi Siswa SMP dan MTs. Makalah disajikan dalam Simposium Nasional Pendidikan Tahun 2008.

Elwina, Marcella. 2008. Pendidikan Anti Korupsi. Diunduh 26 Agustus 2008 (http://web.pangudiluhur.org/html/artikel.php?h=41)

Setiawan, Benni. 2006. Manifesto Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Sugita, M Basuki. 2007. Ayo Bermain Ular Tangga Anti Korupsi (Kompas Edisi 19 Mei 2007).

Sulistiawan, Bayu. 2008. Nilai-nilai Antikorupsi dalam Pendidikan Islam. Yogyakarta: Skripsi S1 UMY

Suparno, Paul. 2002. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Suatu Tinjauan Umum. Yogyakarta: Kanisius.

Suprapto. 2006. Pendidikan Anti Korupsi Bergulir dari Kudus (Kompas Edisi Rabu, 4 Januari 2006).

Tim KPK. 2007. KPK Annual Report 2007. Jakarta: KPK

Tim KPK. Tanpa tahun. Pahami Dulu Baru Lawan Buku Panduan Kamu Buat Ngelawan Korupsi. Jakarta: KPK

Tim MCW. 2005. Seri Pendidikan Anti Korupsi Mengerti dan Melawan Korupsi. Jakarta: Kerjasama YAPPIKA dan MCW.

Tim Redaksi Fokusmedia. 2003. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia

Tuhusetya, Sawali. 2008. Perlukah Pendidikan Anti Korupsi Masuk Kurikulum? , (Http:// http://www.sawali.info. Diunduh 14 Mei 2008 )

Winarto, Alip. 2007. Pendidikan Anti Korupsi. Banjarmasin Post edisi 31 Januari 2007. Diunduh dari www.bakpiajogja.blogspot.com tanggal 10 Juni 2008.

www.kpk.go.id. 2006. KPK Cegah Korupsi Lewat Pendidikan Siswa. Diunduh tanggal 10 Juni 2008.

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral & Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.

Majalah SMP Keluarga Kudus edisi 1 tahun 1/April 2007.

Majalah SMP Keluarga Kudus edisi 2 tahun 1/Oktober 2007.

Modul Pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi-Buku 1-3. Diterbitkan oleh Pusat Studi Urban Unika Soegijapranata bekerjasama dengan Insitute of Social Studies, The Netherlands

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: