Oleh: niamw | April 30, 2010

Jenis-Jenis Teori Belajar (Bagian 1)

TEORI KONEKSIONISME THORNDIKE

Pengaruh pemikiran Thorndike dalam studi psikologi khususnya dalam psikologi belajar sangat besar. Hampir setengah abad teorinya menguasai ahli teori belajar lainnya. Hal ini ditunjukan dengan adanya ahli yang setuju maupun yang tak setuju terhadap pendapatnya atau teorinya.. Thorndike merupakan contoh dari seorang teoritis yang karyanya dipandang mendominasi psikologi dan pendidikan pada masanya. Dalam melakukan eksperimennya, pilihan pertamanya mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak (human learning) tetapi kemudian lingkungannya membuat ia mulai mempelajari binatang (animal learning) sebagai penggantinya.


A. Eksperimen Thorndike

Pokok-pokok Pelaksanaan Eksperimen

Thorndike mengadakan eksperimen terhadap seekor kucing muda yang lapar. Jika kucing menyentuh tombol tertentu, pintu terbuka dan dia dapat lari menuju makanan yang disediakan. Mula-mula, dalam usahanya untuk keluar, dia bergerak dengan bermacam cara. Akhirnya, dia keluar dan langsung menuju makanan. Percobaan berulang kali membuktikan bahwa semakin lama, kucing semakin cepat menyentuh tombol dan dengan segera dapat mencapai makanan.

Interpretasi Thorndike atas Percobaannya

Usaha-usaha binatang pada situasi yang berperangsang untuk keluar dari kungkungan akan bermacam-macam. Tingkah laku mencoba keluar kungkungan tidak berhubungan dengan tingkah laku yang bertujuan membebaskan diri.

Usaha dengan trial and error makin lama makin singkat karena binatang hanya melakukan gerak-gerak yang berguna dan meninggalkan yang tidak berguna. Ini berlaku secara mekanis tanpa disadari atau diketahui kucing (Bonver dan Hilgard, 1981).

B. Pengaruh Eksperimen Thorndike terhadap Pandangan mengenai Belajar bagi manusia

Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa diperantarai pengertian. Binatang melakukan respon-respon langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis (Suryobroto, 1984).

Selanjutnya, kita dapat mencatat bahwa prinsip-prinsip yang berlaku pada hewan maupun manusia akan sama, yakni berdasarkan pada hukum-hukum belajar, yang terdiri atas tiga hukum primer dan lima hukum subsider

1. Tiga hukum primer ialah:

Law of readiness

Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

Law of exercise

Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan.

Law of effect

Hukum ini menunjukkan pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.

2. Lima hukum subsider ialah:

Law of multiple response (Hukum multirespons atau variasi reaksi)

Seseorang dibiarkan membuat reaksi atau respon dan memilih yang paling baik dan mempunyai nilai intrinsik atau hadiah sosial.

Law of attitude (Hukum sikap, disposisi, prapenyesuaian diri)

Orang yang belajar mendapat fakta secara pribadi dari hasil respon, sikap atau set yang tidak hanya dipikirkan dan dikerjakannya, tetapi juga yang dienggani, tidak disukai atau ditolak.

Law of partial activity (Hukum aktivitas parsial suatu situasi)

Untuk menentukan respon variasinya terhadap situasi eksternal, pelajar mengharapkan adanya efek. Usaha tersebut mendapatkan respon dari keseluruhan situasi yang membantu proses berpikir analisis.

Law or response by analogy (Hukum respons terhadap analogi)

Seseorang mengadakan respon terhadap suatu situasi baru dengan analogi yang sungguh-sungguh diilustrasikan situasi tersebut.

e shiftinLaw of associativg (Hukum perubahan situasi)

Fakta sama, yang merupakan respon hasil perlawanan suatu insting atau kebiasaan, menghitung asimilasi maupun asosiasi yang berubah (Sahakian 1970).

TEORI PAVLOV’S CLASSICAL CONDITIONING

Classical Conditioning juga disebut teori contiguity (keterdekatan dua objek atau lebih tanpa diselingi hal lain) dikembangkan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1894-1936). Dalam mengembangkan teori ini, Pavlov melakukan serangkaian percobaan. Dalam eksperimennya ia menunjukkan daging kepada anjing yang kemudian memakan daging itu. Setiap kali ditunjukkan makanan, anjing itu mengeluarkan air liur. Tampak bahwa daging yang di sini disebut unconditional stimulus (UCS) menyebabkan respons (R), keluar air liur. Pada percobaan-percobaan berikutnya, bel dibunyikan sebelum daging ditunjukkan kepada anjing. Sesudah beberapa kali percobaan, anjing mulai mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bunyi bel saja. Dengan kata lain anjing tersebut telah terkondisi (terbiasa) untuk memindahkan (mentransferkan) responnya, dalam hal ini keluarnya air liur dari stimulus adalah wajar, yakni daging ke stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus) dalam hal ini bunyi. Diagram di bawah ini menunjukkan penjelasan di atas.

Unconditioned stimulus (UCS)

(daging)

R

Keluarnya air liur

Conditioned stimulus (CS)

(Bunyi bel)

Gambar. Classical Conditioning

Sementara itu , stimulus daging disebut unconditioned stimulus karena stimulus itu dapat menimbulkan respon tanpa adanya pelatihan atau pembelajaran. Stimulus bunyi bel disebut conditioned stimulus atau setimulus terkondisi karena rangsangan ini dapat menimbulkan respon (R) yakni keluarnya air liur setelah latihan berulang kali dengan memasangkannya bersamaan dengan stimulus daging. Respons yang ditimbulkan oleh conditioned stimulus disebut prespons terkondisi (conditiones respons).

Teori Pavlov didasarkan pada reaksi system tak terkondisi dalam diri seseorang, reaksi emosional yang dikontrol oleh sistem urat syaraf otonom, serta gerak reflek setelah menerima stimulus dari luar. Ada tiga parameter yang diperkenalkan Pavlov melalui teori Clasical Conditioning, yaitu reinforcement, extinction dan spontaneous recovery (penguatan, penghilangan, dan pengembalian spontan).

Menurut Pavlov, respon terkondisi yang paling sedserhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu, tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus yang tak terkondisi dan respon yang tak terkondisi dalam pada interval waktu tertentu. Dengan demikian pembentukan respon terkondisi pada umumnya bersifat bertahap (gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimlus tak terkondisi, makin mantaplah respon terkondisi yang terbentuk sampai pada suatu ketika respon terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi. Jika penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendiri tanpa stimulus terkondisi dimunculkan sendiri tanpa stimulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuensi respon terkondisi akan menurun atau hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan atau extinction. Misalnya cahaya dan daging untuk membuat anjing berliur. Jika hanya cahaya yang dimunculkan tanpa daging, lama kelamaan dapat terjadi anjing bmenjadi tidak berliur lagi. Namun demikian bukan tidak mungkin pada suatu waktu anjing akan kembali berliur lagi (respon terkondisi muncul kembali – spontaneous recovery) walaupun hanya cahaya yang dimunculkan (tanpa daging).

Disamping itu, dalam teori Clasical Conditioning hal ini dikenal juga perampatan stimulus, yaitu kecenderungan untuk memberikan respon terkondisi terhadap stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan bersama-sama dengan stimulus tak terkondisi. Makin banyak persamaan stimulus baru dengan stimulus terkondisi pertama, makin besar pula perampatan yang dapat terjadi. Dalam teori Clasical Conditioning juga mengenal konsep diskriminasi stimulus, yaitu suatu proses belajar untuk memberikan respon terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respon sama sekali terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan memberikan suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan, et.al.,1986) sehingga seseorang akan melakukan selective association (asosiasi terhadap stimulus untuk memunculkan respon).

Prinsip Dasar

Segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari pada Conditioning.

Prinsip Belajar menurut Teori Classical Conditioning

Pengaruh dari lingkungan, misalnya:

Berbagai prinsip matematika dituliskan di kertas dan ditempelkan di dinding.

Pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan kaset atau dialog langsung di sekitar individu.

Lingkungan/kondisi ruangan yang kotor menjadikan siswa malas belajar

Adanya reward dan punishment, misalnya:

Diberlakukannya nilai jelek untuk kegagalan dalam suatu tugas

Diberlakukannya hukuman berdiri pada siswa yang tidak bias menjawab

Diberlakukannya perjanjian untuk menyelesaikan tugas sampai selesai walaupun harus menunda waktu pulang.

Hukum-Hukum Belajar

Low of Respondent Conditioning

Hokum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforce), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

Low of Respondent Extinction

Hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent contioning itu didatangkan kembalil tanpa menghadirkan reinforce, maka kekuatannya akan menurun.

Pandangan tentang belajar

Belajar merupakan hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupan.

Proses belajar terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon refleksif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: